IDENTIFIKASI BAHAYA PEKERJA MAINTENANCE BLENDING SILO MENGGUNAKAN METODE JOB SAFETY ANALYSIS (JSA) PADA PT SOLUSI BANGUN INDONESIA
DOI:
https://doi.org/10.33005/wj.v19i1.219Keywords:
Blending Silo, Job Safety Analysis (JSA), Plug Up, Risk Assessment, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)Abstract
Pekerjaan pemeliharaan (maintenance ) pada blending silo mengandung sejumlah potensi bahaya, khususnya pada aktivitas penanganan plug up Product HRC yang hingga saat ini masih memerlukan intervensi manual pekerja di area bawah silo. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi bahaya pada pekerjaan tersebut dengan menerapkan metode Job Safety Analysis (JSA), sekaligus mengevaluasi perubahan tingkat risiko setelah diterapkannya perubahan desain pada blending silo. Proses identifikasi dilaksanakan dengan mengamati setiap tahapan pekerjaan, potensi bahaya yang menyertainya, dampak yang mungkin timbul, serta pengendalian yang diperlukan untuk menekan risiko tersebut. Penilaian tingkat risiko dilakukan melalui dua tahap, yaitu Initial Risk Assessment dan Residual Risk Assessment, dengan memperhitungkan tiga parameter utama: Exposure, Probability, dan Consequences. Hasil identifikasi mengungkap beberapa bahaya utama, antara lain risiko jatuh dari ketinggian, tertimpa material, paparan debu, suhu kerja yang tinggi, ventilasi yang tidak memadai, serta gangguan akibat posisi kerja yang kurang ergonomis. Pada tahap penilaian awal, nilai risiko tertinggi ditemukan pada bahaya material yang jatuh dari bagian atas silo, yaitu sebesar 540 dengan kategori Extreme, sedangkan risiko jatuh dari ketinggian tercatat sebesar 270 dengan kategori High. Sebagai bentuk pengendalian, dilakukan perubahan desain berupa pembongkaran aeration box, pemasangan chute , dan penambahan air blaster guna mengurangi ketergantungan pada pekerjaan manual di bagian bawah silo. Hasil Residual Risk Assessment memperlihatkan penurunan risiko yang cukup signifikan, dengan nilai risiko material jatuh turun menjadi 4,5 (kategori Low) dan risiko jatuh dari ketinggian turun menjadi 18 (kategori Low). Temuan ini menegaskan bahwa penerapan JSA, penilaian risiko, dan perubahan desain secara berurutan dapat menjadi satu rangkaian pendekatan yang efektif untuk mengidentifikasi bahaya, menetapkan tindakan pengendalian, serta menekan tingkat paparan pekerja terhadap risiko kerja.
